Selasa, 07 Februari 2012

Si Sandal Jepit dan Sang Peci

Suatu malam, saat semua penghuni rumah sudah terlelap, si sandal jepit yang berada di luar rumah menggigil kedinginan. Tak pernah sekalipun ia diajak masuk oleh pemiliknya. Dengan tubuh kotor penuh debu, kadang lumpur, ia selalu dibiarkan tergeletak di luar rumah. Rupanya, keluhan itu sempat didengar oleh sang peci yang tergantung di paku di dinding ruang tamu. Melihat rekannya yang berada di luar, sang peci hanya tersenyum penuh kemenangan dan pura-pura tidak mempedulikan si sandal jepit yang mulai menangis.
Dalam batinnya, si sandal berkata, sungguh enak menjadi sang peci. Ia selalu ditempatkan oleh pemiliknya di atas, dipakai ataupun tidak, tidak pernah berada di bawah. Lain halnya dengan dirinya, dipakai terinjak-injak, tak dipakai tetap tersingkir dipojokkan, di tanah, atau di lantai dingin.
Setiap kali hendak digunakan oleh pemiliknya, sang peci selalu dibersihkan, tak satupun debu dibiarkan hinggap. Sehabis dipakai, sang peci kembali dibersihkan dan diletakkan kembali ke tempat yang lebih terhormat, jika tidak di atas lemari, di dalam lemari, di atas buffet, paling rendah tergantung di dinding. 
Berbeda dengan nasib si sandal jepit, dipakai tak pernah dibersihkan, sehabis dipakai tak dipedulikan sekotor apapun, mulai dari debu sampai kotoran dengan aroma bau yang tak sedap 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar